MENJADIKAN SEKOLAH SEPERTI TAMAN, ANAK DATANG KE SEKOLAH DENGAN SENANG DAN PULANGNYA TERASA BERAT

Assalamualaikum rekan-rekan education semua,disini saya akan memberikan anda sebuah informasi yang saya dapatkan dari okezone.com tentang:Menjadikan sekolah seperti taman,anak datang kesekolah dengan senang dan pulangnya terasa berat.Naaa….Sepertiapakah kelanjutan dari informasi menarik untuk anak tersebut?..Silahkan baca dibawah ini!!!

Berikut ulasan selengkapnya terkait dorongan dari Kemdikbud kepada guru untuk menjadikan sekolah seperti taman, yang admin share dari Okezone.com, sebagai berikut :

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menegaskan, untuk memperbaiki dunia pendidikan perlu kerja sama dari berbagai pihak. Salah satu pihak terpenting dalam memperbaiki dunia pendidikan adalah peran seorang guru atau tenaga pendidik.

Kemajuan pendidikan itu ada pada pendidiknya. Guru harus jadi kunci kemajuan (pendidikan),” kata Anies, di Bandung, tadi malam.

Selain harus memiliki kemampuan yang baik dalam mengajar, guru juga harus bisa membuat suasana dunia pendidikan nyaman. Dia pun mengibaratkan sekolah harus jadi seperti taman.

Taman itu sebuah tempat yang bila anak datang, dia datang dengan senang, pulang dengan berat. Sudahkah sekolah seperti taman? Justru terbalik, anak datang dengan berat hati, pulang dengan senang hati,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan kepada para sekolah dan guru untuk membuat suasana belajar menjadi nyaman. Caranya, bisa dilakukan dengan berbagai hal. Yang terpenting, siswa datang bersemangat ke sekolah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Kepala sekolah harus sadar bahwa tugas Anda membuat suasana belajar jadi menyenangkan. Guru juga begitu (tugasnya). Sederhana menurut saya,” ucap Anies. (fsl)

Tentang Kurikulum, Guru Madrasah Agar Pedomani KMA 207 dan SE Dirjen Pendis

Jakarta (Pinmas) —- Semester dua tahun ajaran 2014/2015 sudah dimulai sejak awal tahun lalu. Keputusan Menteri Agama No 207 tentang Kurikulum Madrasah yang terbit pada akhir tahun 2014, mengatur bahwa mulai semester genap ini,  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) diberlakukan secara nasional pada MI, MTs, dan MA.

Untuk memudahkan guru madrasah,  Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) juga menerbitkan Surat Edaran tentang penjalasan atas KMA itu. Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan meminta guru madrasah untuk memedomani KMA dan SE Dirjen tersebut.

“Ikuti diktum KMA 207/2014 dan SE Dirjen Pendis nomor SE/DJ.I/PP.00.6./1/2015 tentang penjelasan KMA 207/2014,” demikian penegasan M. Nur Kholis saat dimintai tanggapan terkait adanya sebagian guru madrasah yang merasa bingung dalam menentukan kurikulum, Selasa (20/01).

Menurutnya, diktum-diktum  dalam KMA 207 sudah sangat jelas, mengatur bahwa madrasah kembali menggunakan  KTSP untuk mata pelajaran umum sebagaimana yang menjadi kebijakan umum Kemendikbud.  Sementara  K-13, tetap digunakan untuk mata pelajaran rumpun PAI dan Bahasa Arab.

“Untuk mengevaluasi dan sambil menyiapkan lebih matang K-13, madrasah-madrasah yang bagus ditetapkan sebagai madrasah pembina K-13. Ini pun sejalan dengan kebijakan dikbud yang melanjutkan K 13 di 6221 sekolah,” jelas guru besar UIN Sunan Kalijaga ini.

M. Nur Kholis menambahkan bahwa kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi tentang K-13 juga beragam.  DI Yogyakarta misalnya yang memilih untuk melanjutkan K 13. Sehubungan itu, KMA 207 juga mengatur bahwa madrasah diperkenankan melanjutkan K 13 sesuai dengan kebijakan Dinas Pendidikan Provinsinya.

Penilaian Hasil Belajar

Terkait  penilaian hasil belajar, M. Nur Kholis menjelaskan bahwa dalam SE Dirjen Pendis sudah diatur untuk tetap mengikuti standar penilaian KTSP 2006, termasuk untuk mapel Bahasa Arab dan rumpun Pendidikan Agama Islam. Maksudnya, penilaian hasil belajar mapel PAI dan Bahasa Arab K-13 dapat menggunakan penilaian berbasis kelas dan dapat dikonversi ke skala 1-10 secara kuantitas. “Ini berbeda dengan standard penilaian K-13 yang sebenarnya menggunakan skala kualitas atau menggunakan huruf,” tegasnya.

Ditambahkan M. Nur Kholis bahwa buku mapel Bahasa Arab dan rumpun Pendidikan Agama Islam disusun untuk dua semester, tidak seperti buku mapel umum yang dibuat persemester.  “Sehingga untuk semester genap tahun pelajaran 2014/2015, buku siswa dan guru PAI dan Bahasa Arab tinggal melanjutkan,” tambahnya.

Mendikbud: Belajar Sejarah Bukan Berarti Menengok Masa Lalu, Namun Memahami Masa Depan

Jakarta, Kemendikbud — Pelajaran sejarah bukan berarti menengok masa lalu, namun memahami masa depan. Oleh sebab itu pelajaran sejarah akan lebih diarahkan kepada pemahaman makna di balik peristiwa sejarah, dan tidak sekedar hafalan peristiwa. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan saat menghadiri acara silaturahmi bersama Komunitas Historia Indonesia (KHI).

Mendikbud mengatakan, belajar sejarah tidak hanya belajar kapan, dimana, siapa saja yang hadir dalam suatu peristiwa sejarah. Lebih jauh lagi belajar sejarah yang perlu dilihat adalah apa makna peristiwa tersebut bagi bangsa Indonesia. Contohnya seperti mempelajari sejarah Sumpah Pemuda.

“Belajar sejarah Sumpah Pemuda bukan mempelajari kapan, dimana, siapa saja yang hadir saat itu, tetapi makna sumpah pemuda bagi perjalanan bangsa Indonesia,” kata Mendikbud dalam acara silaturahmi bersama KHI yang dilaksanakan di SMA Negeri 19 Jakarta, Kamis (19/02/2015).

Mendikbud meyakini 60 persen  wisatawan mancanegara datang ke Indonesia tiada lain karena budaya. Mendikbud berharap masyarakat dapat menjaga budaya Indonesia. Dengan begitu, kata Mendikbud, daya tarik budaya Indonesia tidak akan hilang. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), tutur Mendikbud, akan lebih serius melestarikan museum dan cagar budaya.

“Kemendikbud berharap adanya partisipasi masyarakat untuk memberitahu cagar budaya yang terancam atau perlu mendapat perhatian,” ujar Mendikbud.

Di hari yang sama Mendikbud didampingi Plt. Kepala Pusat Informasi dan Humas (PIH) Ari Santoso, menghadiri perayaan Imlek 2015 yang dilaksanakan di Klenteng Kim Tel Le atau Vihara Dharma Bhakti, di daerah Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat.  “Gong Xi Fat Cai,” demikian disampaikan Mendikbud saat menyampaikan ucapan selamat hari raya Imlek kepada para pengunjung Vihara Dharma Bhakti. (Seno Hartono/Nur Widiyanto)

Jokowi : Madrasah Kita Sudah Unggul

Jakarta (Pendis) – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang biasa disapa Jokowi menyatakan bahwa saat ini banyak madrasah yang tak kalah bagusnya ketimbang sekolah umum. Jokowi mengakui bahwa saat ini, banyak madrasah di beberapa daerah kota di Indonesia yang bisa menjadi alternatif untuk belajar.

“Saya melihat di banyak kota, sekarang madrasah-madrasah kita sudah menjadi sebuah madrasah yang unggul,” kata Presiden di Istana Negara saat Peresmian Program Tranformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Launching Program 5.000 Doktor, Jumat (19/12). Oleh sebab itu, lanjut Jokowi, madrasah kini tidak hanya menjadi alternatif, tapi juga pilihan bagi orang tua untuk menyekolahkan putera-puterinya.

Selain itu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menegaskan bahwa madrasah saat ini tidak kalah unggul dengan sekolah umum. “Tidak kalah dengan sekolah-sekolah umum,” tegas Presiden. Memang diakui, kesan yang unggul pada zaman dahulu adalah sekolah umum. “Biasanya dulu yang unggul kan (sekolah-red) umum, saya melihat itu,” imbuh Presiden pilihan rakyat ini.

Oleh sebab itu, atas torehan perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan Islam ini, mantan Walikota Solo ini berharap agar semua itu dijadikan bahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas pendidikan. “Inilah fungsi-fungsi pendidikan Islam dan dalam rangka juga memenuhi kebutuhan-kebutuhan negara, pemerintah, dan rakyat yang masih sangat dibutuhkan,” terang Jokowi.

“Banyak sekali saya melihat (keunggulan-red) itu, dan ini patut kita syukuri,” imbuh Presiden mengakhiri.

(sholla/ra)

Menag : Perempuan Adalah Tiang Negara

Bekasi (Pinmas) — Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan negara yang baik ditadai dengan kaum perempuan yang baik. Menurut Menag, perempuan pada hakikatnya adalah tiang, bahkan  fondasi negara. Sebab,  pada semua tokoh yang berhasil memimpin negara, selalu ada perempuan di sampingnya.

“Bukan dibelakangnya, tapi disampingnya, ini yang perlu kita tekankan,” demikian ditegaskan MenagLHS saat membuka acara konferensi International Muslim Women Union (IMWU), Sabtu (14/02).

Menurutnya,  perempuan juga merupakan tulang punggung perekonomian sehingga  perannya sangat besar bagi negara.  Menag mendukung gerakan memperjuangkan  hak-hak  dasar perempuan dalam pendidikan,  kesehatan dan  aktualisasi potensi.

Dikatakan Menag,  ajaran Islam  meletakkan posisi yang proposional antara laki-laki dengan perempuan. Perempuan, kata Menag, bukanlah kelas dua, bukan pula yang harus dikebelakangkan. “(perempuan) tidak lebih rendah daripada laki-laki, ini esensi dari ajaran Islam,” ujar Menag.

Sebelumnya,  pimpinan Perguruan Islam Assafiiyah Tuti Alawiyah menyampaikan apresiasi tinggi terhadap peserta IMWU dan kaum perempuan Indonesia untuk ikut berpartisipasi bersama dalam mencari solusi bersama dalam berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, ketertinggalan perempuan, pendidikan, perempuan di pengungsian, dan lainnya. (ba/mkd/mkd)

Menag: Anak Tak Boleh Kehilangan Kesempatan Belajar


Jakarta(Pinmas)—Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan, anak tak boleh kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah karena seluruh dana untuk pendidikan dewasa ini telah tercukupi.

Apalagi jika ada anak tak sekolah karena bangunannya rusak atau roboh, maka yang patut disalahkan adalah dinas atau kakanwil setempat, kata Suryadharma Ali seusai meletakkan batu pertama Rumah Susun Sewa (Rusunawa) bersama Menteri Perumahan Djan Faridz di Pondok Pesantren Tambhigul Hofilin, Desa Mantrianom, Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu.

Nampak hadir pada kesempatan itu para ulama, pengasuh Ponpes Tambhigul Hofilin Muhammad Hamzah dan sejumlah pejabat dari Kakanwil Kemenag Jateng.

Menag Suryadharma Ali menyatakan, dana untuk anak bersekolah sudah cukup. Jika ada orangtua tak mampu, maka pemerintah mengeluarkan bantuan berupa dana bantuan sekolah atau yang dikenal BOS.

Karena itu, menurut SDA, tidak ada alasan bahwa dewasa ini jika dijumpai ada anak tak bersekolah hanya disebabkan orangtua tak mampu atau bangunan sekolah rusak. “Saya akan menjewer Kakanwil jika menjumpai bangunan sekolah rusak terlambat diperbaiki,” katanya.

Perhatian pemerintah terhadap pendidikan demikian besar. Termasuk di dalamnya untuk pondok pesantren dan madrasah. Untuk itu ia datang ke Ponpes di Banjarnegara itu untuk meletakkan batu pertama yang diperuntukan bagi kalangan pengajar di pondok pesantren.

“Saya menyampaikan apresiasi terhadap Kementerian Perumahan yang ikut ambil bagian mendukung kelengkapan pemondokan bagi tenaga pengajar di sini,” kata Suryadharma Ali.

Jasa Pondok Pesantren terhadap kemajuan bangsa demikian besar. Bukan hanya mengisi keimanan bagi para santri, tetapi lebih dari itu Ponpes telah mengembangkan pendidikan agama di berbagai tempat. Melalui pendidikan agama itu pula sekarang dapat dirasakan banyak anak bisa membaca Al Quran, mampu membaca kitab kuning.

“Karena itu membantu pesantren, termasuk di dalamnya melengkapi dengan Rusunawa, merupakan kewajiban pemerintah,” ia menegaskan.

Banyak program dari pendidikan di Ponpes harus didukung para ulama. Kesemuanya untuk meningkatkan kualitas dari pendidikan anak. Ulama dan para kiai tak boleh berdiam diri. “Saya minta para ulama hendaknya lebih agresif untuk memajukan pendidikan,” ia menambahkan.

Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya selama 2010 sampai 2013 telah membangun 82 unit Rusunawa di berbagai tempat. Termasuk di Jawa Tengah. Kedepan, pembangunan Rusunawa akan ditingkatkan dua kali lipat, yaitu 200 unit di 28 provinsi. Pihaknya memprioritasnya pembangunannya di lingkungan lembaga pendidikan agar kualitas pendidikan makin baik ke depannya.

“Kami sangat peduli dengan pembangunan Rusunawa di lingkungan lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya pondok pesantren,” kata Djan.(ant/ess)

 

Acara bulan Nopember s/d Desember 2012

KEMENTERIAN  AGAMA
MADRASAH  IBTIDAIYAH  NEGERI  WATUAGUNG 
Jl. Kendeng No. 03 Watuagung  Tambak  Telp. (0287) 475480
e-mail : minwatuagung@jateng.kemenag.go.id
Banyumas 53196

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.674 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: