Manfaat Kegiatan Musik Bagi Perkembangan Anak Usia Sekolah

Group Marchingband MI Negeri Watuagung Tahun 2012

Kita sering menjumpai disudut-sudut rumah ada orang tua yang suka memaksa putra putrinya untuk belajar, ikut les tambahan diluar jam sekolah yang porsinya sangat menyita waktu putra putrinya untuk bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat sekitar, atau boleh dibilang dunia anak-anaknya jadi hilang, anak-anak sangat kurang punya kesempatan bermain. Belum lagi ditambah pekerjaan rumah dari guru yang mungkin tak jarang kita jumpai cukup banyak, hal ini semakin mengurangi waktu anak-anak untuk belajar sendiri atau belajar berkelompok dengan teman-temannya sebagai ujud pembelajaran dalam bekerjasama juga. Waktu luang buat anak-anak bersosialisasi dengan masyarakat sekitar sangat kurang, begitu pula kesempatan anak-anak untuk berprestasi lebih (need for acheivement) dibidang non akademis juga sangat kurang terperhatikan.

Kemudian diwaktu senggangnya snak-anak menghabiskan waktunya untuk nonton tayangan TV yang semestinya sangat membutuhkan pendampingan dari orang tua, mengingat tontonan pada televisi tidak semuanya layak ditonton oleh usia pertumbuhan anak, karena tanpa kehati-hatian maka itu sama saja dengan membiarkan calon-calon generasi muda ini terjerumus perkembangan moralnya, sering kita saksikan di layar televisi adegan tawuran, atau pencuri yang dihakimi masa, juga tayangan sinetron yang isinya orang bersitegang perang mulut, meskipun pemeran prianya menggunakan kopyah dan pemeran wanitanya berjilbab. Disinilah yang membuktikan bahwa performance seseorang belum tentu menunjukkan kepribadiannya, sedangkan perkembangan kepribadian itu perlu pemantauan yang terarah dan hati-hati, mengingat bahwa masyarakat kita tidak sedikit yang terdidik untuk bertindak anarkhis, misalnya menghakimi pencuri dengan kekerasan fisik secara massal dihadapan anak-anak kecil, inilah yang tidak mereka sadari bahwa ini sudah termasuk memberikan pendidikan yang tidak baik terhadap anak-anak kecil yang menyaksikan. Tak jarang juga setelah kejadian itu maka hal itu justru dijadikan bahan cerita yang seolah sangat menarik, serta beberapa orang yang menceritakan dirinya sudah merasa beruntung dengan ikut bertindak kekerasan pada sipencuri hingga babak belur, dalam arti lain tak sedikit dari mereka yang memanfaatkan kesempatan itu untuk bertindak anarkhis agar bisa cerita pada anak cucu. Astaghfirullahal’adzim. Dan belum lagi masalah kenakalan remaja yang mengarah pada pergaulan bebas kurang pengawasan orang tua.

Dengan demikian sianak membutuhkan waktu luang untuk diisi dengan kegiatan non akademis yang positif dan terarah dengan baik

Musik merupakan kegiatan penyeimbang kerja otak manusia, dimana otak manusia terbagi dalam 2 sisi, yaitu otak kiri yang fungsinya digunakan untuk bekerja mengolah kegiatan formal/akademis, atau lebih mudahnya bila kita perhatikan anak-anak usia pelajar sedang belajar pelajaran sekolah, maka yang bekerja saat itu adalah otak sebelah kiri. Kemampuan otak kiri manusia in adalah tidak lebih dari 20%. Kemudian untuk otak kanan berfungsi sebagai pengolah kegiatan emosional, yang sebetulnya adalah penyeimbang dari otak kiri, salah satu dari kegiatan emosional manusia yang saya bahas disini adalah kegiatan musik, dimana pembelajaran dalam kegiatan ini harus ditangani secara serius dengan arahan yang benar dan prosedural, sehingga si anak yang sedang belajar musik dapat merasakan betul prosesnya, dengan demikian maka logika si anak akan terlatih dengan baik, maka secara tidak langsung kepekaan anak terhadap lingkungan alam sekitarpun terlatih. Kemampuan dari otak emosional adalah sisanya dari kemampuan otak kiri, yaitu 80%.

Dengan uraian diatas dapat kita simpulkan apabila peran orang tua dalam memantau kegiatan anak dalam beraktifitas adala sangat penting, perlu perhatian yang teliti pemanfaatan fungsi otak yang dimiliki sianak, apabila aplikasi pada sianak dalam berkegiatan kurang seimbang, maka kemampuan anak juga akan statis/sulit untuk meningkat, dalam arti bila otak emosional tidak difungsikan, maka kemampuan otak kiri yang hanya 20% tidak akan meningkat, karena untuk meningkatkan volume 100% kemampuan otak manusia tidak bisa dipaksakan penguasaan pada hanya sebelah otak saja, porsi kemampuan penguasaan otak manusia sudah terbagi sedemikian rupa.

Inilah yang perlu kita pelajari demi perkembangan fisik dan psikhis para calon generasi muda kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: